Netralitas.. Sebuah Neo-Kemunafikan

5
(1)

Netralitas merupakan sebuah wajah baru dari kemunafikan, karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang melakukan kemunafikan. Sikap netral hanya dilakukan oleh manusia, karena tidak ada makhluk yang bisa tanpa prinsip selain manusia. Bahkan hewan, tumbuhan, benda mati sekalipun menolak untuk tidak berprinsip!

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dimasukkan dalam kobaran api, para hewan terbagi dalam dua sikap, antara yang berupaya memadamkan apinya, serta ada pula yang berlaku seperti cicak, meniup api dengan tujuan menambah besar kobarannya! Karena itulah Rasul kita memerintahkan untuk membunuhnya! Bahkan hewan pun menolak untuk tidak memiliki prinsip; mereka mengambil posisi: mendukung atau melawan. Hanya manusia makhluk yang bisa tanpa prinsip, hanya menonton.

Pun begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabari kita bahwa kaum muslimin akan memerangi kaum Yahudi sebelum datangnya hari kiamat. Umat Islam menang, mereka memburu Yahudi dimanapun, sampai pepohonan bahkan bebatuan berbicara memanggil orang Islam : Wahai muslim, datanglah kesini, si Yahudi bersembunyi di belakangku, bunuhlah ia! Selain pohon Ghorqod, karena merupakan pohon orang Yahudi.

Pepohonan tidak mengenal netralitas dalam peperangan moral, dia mengambil sikap: mendukung atau melawan. Bahkan batu-batuan pun mengambil sikap. Nabi kita pernah bersabda : “Ini adalah Uhud, bukit yang mencintai kita dan kita mencintainya.” Maka, masih adakah yang lebih memalukan, ketika hewan, pohon dan batu memiliki prinsip, sementara manusia berada pada netralitas, tidak mampu mengambil sikap?!

Netralitas dalam bidang ilmiah adalah perbuatan yang terpuji, dimana peneliti atau pembelajar atau bahkan seorang alim melepaskan dirinya dari belenggu hawa nafsu serta kecenderungannya pada satu gagasan ketika mempelajari suatu kasus. Kemudian tidak malu untuk mengumumkan hasilnya meskipun bertentangan dengan ide-idenya. Hal seperti ini adalah puncak dari peradaban manusia. Tapi sikap netral manusia terhadap isu dan konflik yang terjadi di planet ini merupakan perilaku yang sangat tercela. Tidaklah terjadi satu konflik melainkan ada pihak yang zalim dan apa pihak yang dizalimi. Ketika kita hanya menonton si zalim membunuh yang terzalimi, sejatinya kita tidaklah sedang bersikap netral, tapi kita sedang mendukung orang yang zalim.

Negara-negara yang mencoba meyakinkan kita bahwa mereka ada pada posisi netral, hampir saja kita mempercayainya, jika mereka membiarkan semua yang terjadi di dunia ini sebagaimana adanya, menahan pasukan bersenjata mereka tetap berada di dalam negerinya sendiri. Tetapi ketika mereka melakukan pendudukan atas satu negara dengan dalih menegakkan demokrasi, kemudian mendukung seorang diktator di negara lain karena membantu mencapai kepentingan mereka, bagaimana kita bisa mempercayainya? Atau ketika mereka mengadakan pemilihan umum di satu negara, kemudian mendukung kudeta militer di negara lain, bagaimana mungkin kita bisa mempercayainya? Negara-negara tersebut sejatinya tidak memiliki prinsip, tapi mereka hanya memiliki kepentingan. Mereka akan melakukan intervensi apabila intervensi mereka menghasilkan banyak uang, dan mereka berada dalam posisi netral agar peperangan terus berlanjut. Karena apabila tidak ada peperangan lagi, mereka tidak akan dapat menjual senjata mereka!

Negara-negara besar itu tahu, bahwa dulu orang-orang membuat senjata untuk digunakan dalam peperangan, maka sekarang mereka harus terus menyalakan api peperangan agar dapat menjual senjata-senjata mereka!

Diolah dari tulisan Adham Sharqawi

Klik pada bintang untuk memberikan penilaian

Rating rata-rata 5 / 5. Jumlah suara: 1

Apabila anda menganggap artikel ini bermanfaat...

Ikuti kami di media sosial!

Kami mohon maaf apabila artikel ini tidak bermanfaat untuk anda!

Bantu kami meningkatkan mutu artikel!

Berikan masukan anda untuk perbaikan artikel ini!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *